Oleh : Dimas Sundarwanto, ST.,
Seorang Insinyur Tekhnik Jebolan Universitas Subang (UNSUB) periode 2016 yang kenyang dengan dunia aktivis muda yang kerap bikin geger kampus maupun pemerintah kabupaten Subang, dia adalah Dimas Sundarwanto, ST., yang sejak kuliah semester 6 sampai saat ini telah berkiprah dibidang tekhnik sipil menggeluti sebagai konsultan yang bermitra dengan PUPR Subang, yang sekaligus memberikan sumbangsih pemikiran turut serta membangun kabupaten Subang, semoga.
Disilain, Dia memberikan pandangan tentang perubahan zaman yang cukup signifikan, yakni Era Digitaliasi yang dinilainya akan menjadi sumber informasi utama bagi ummat manusia, saat ini digitalisasi telah menguasa dunia ini secara besar-besaran pula, era digital ini yang sudah menyebar luas kepenjuru dunia bahkan prosentase komsumsi masyarakat cukup besar, mulai dari masyarakat kelas rendah sampai dengan kelas tinggi.
Pandangan ini berjudul Banjir Informasi Era Digital : Antara Kebebasan dan Krisis Validitas
Era digital, dengan segala kemudahan dan kecepatannya, telah berubah secara mendasar cara kita mengakses, mengonsumsi, dan berbagi informasi. Dahulu, etalase informasi publik didominasi oleh segelintir institusi mapan – media cetak dengan proses kurasi yang ketat, stasiun radio dan televisi dengan standar penyajian yang kuat. Mereka memegang monopoli atas narasi publik, menyaring dan menyajikan informasi yang dianggap relevan dan terpercaya. Namun, kemunculan internet dan, terutama, media sosial, telah mendemokratisasi produksi dan distribusi informasi secara radikal. Bayangkan, Setiap individu yang memiliki smartphone dan koneksi internet kini berpotensi menjadi produsen dan penyalur berita, opini, dan bahkan apa pun yang mereka anggap sebagai fakta.
Kebebasan yang nyaris tak terbatas ini, meskipun pada awalnya disambut sebagai angin segar yang memberdayakan suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan, memunculkan tantangan hebat yang semakin mengikis fondasi kepercayaan kita terhadap informasi. Kira-kira begini gambarannya : Lautan informasi yang tak terbendung, membanjiri kita dari berbagai penjuru media sosial, platform berita daring, blog pribadi, dan forum diskusi, sering kali mengaburkan batas yang dulunya jelas antara fakta yang diverifikasi, opini subjektif, interpretasi bias, dan bahkan disinformasi yang sengaja disebarkan. Algoritma media sosial, yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, sering kali tanpa sadar memprioritaskan konten yang sensasional, emosional, atau kontroversial, tanpa mempertimbangkan akurasi atau sumbernya. Akibatnya, kebohongan yang dikemas menarik dapat menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada kebenaran yang disampaikan secara hati-hati.
Mencari kebenaran di tengah simfoni informasi yang bising dan sering kali saling bertentangan (kontradiksi) ini ibarat mencari harta karun di tumpukan sampah yang tak henti bertambah.
Ketergantungan masyarakat modern pada media sosial sebagai sumber informasi utama, yang sayangnya sering kali mengungguli kredibilitas lembaga-lembaga media tradisional yang memiliki mekanisme verifikasi yang lebih ketat, memperparah masalah ini. Kemudahan berbagi dan kecenderungan untuk hanya membaca judul atau ringkasan singkat sebelum menyebarkannya lebih lanjut menciptakan ekosistem di mana informasi yang tidak akurat dapat dengan cepat diterima sebagai kebenaran kolektif. Akibatnya, fondasi keyakinan kita menjadi semakin rapuh, sering kali dibangun di atas informasi yang belum diverifikasi, tidak memiliki konteks yang memadai, atau bahkan sengaja dimanipulasi.
Dalam konteks inilah, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) menawarkan secercah harapan di tengah semakin biasnya fakta ditengah kebanjiran informasi. Dengan kemampuannya untuk menganalisis dan memproses sejumlah besar data secara cepat dan objektif, AI berpotensi menjadi filter yang handal dalam menyaring informasi yang akurat dan relevan dari lautan data yang tidak terstruktur. Algoritma AI yang canggih dapat dilatih untuk mengidentifikasi pola disinformasi, memeriksa kredibilitas sumber, membandingkan informasi dari berbagai sumber untuk mendeteksi inkonsistensi, dan bahkan memahami konteks serta nuansa bahasa yang sering kali terlewatkan oleh manusia. Dengan demikian, AI tidak hanya dapat membantu kita menemukan informasi yang kita cari, tetapi juga membantu kita mengevaluasi kebenarannya, membangun pemahaman yang lebih kokoh dan berdasarkan bukti di tengah pusaran informasi digital yang tak terkendali.
Namun, penting untuk diingat bahwa AI bukanlah solusi sempurna dan perlu dikembangkan serta diawasi dengan hati-hati untuk menghindari bias algoritmik dan potensi penyalahgunaan. Peluang dan keuntungan besar dengan hadirnya AI tetap bergantung pada kemauan pengguna untuk mendapatkan “kebenaran” yang lebih tinggi ditengah perkembangan era digital.(*).
