Subang ,givalnews.com – Sejarah awal berdirinya NU versi Muasis NU hanya ada 3 ulama yang terlibat didalamnya, yaitu : Syeikhona Kholil dari Bangkalan Madura bertugas sebagai (Pemberi perintah/amanat), KH. As’ad Syamsul Arifin (santri yang diberi perintah, pembawa amanat tongkat dan tasbih), dan terakhir Hadratusyeikh KH. Hasyim Asy’ari (penerima perintah amanat)
Baru kemudian berkembang melibatkan para tokoh Kyai-kyai lainnya di Nusantara. dan pada masa itu Ba’alawi tidak ada yang terlibat satu pun didalam sejarah awal berdirinya NU, lalu yang jadi pertanyaan adalah, kenapa tiba-tiba
Mereka berlagak seolah merasa yang paling menguasai NU ? terlebih lagi sabotase sebagai
Ketua Thoriqoh yang jelas bukan dari bagian rapat pembentukan ikatan jamaah thoriqoh NU
Terus sekarang beredar versi lain dari sejarah awal berdirinya NU, yang membawa-bawa ba’alawi.
Apa maksudnya? Kenapa semua mau di “ba’alawi kan”? Ada apa ini? Apa sesungguhnya niat kalian wahai para ba’alawi di Nusantara? Semua sejarah Bangsa dan Negara ini di restorasi oleh kalian, seolah-olah semua sejarah Nusantara ini adalah ada atas andil dan jasa leluhur Kalian.
Jangan-jangan kalian akan mengklaim sejarah, bahwa sebelum ada orang jawa di pulau jawa, bangsa ba’alawi lah yang lebih dulu ada.!! #Gak_Punya_Rasa_Malu
Sadarlah wahai para anak Bangsa, yang sekarang masih terus membela mereka, ba’alawi. Sejarah, adat Budaya Bangsa dan Negara kalian, sudah dan sedang terus di restorasi oleh mereka.
Fakta dan bukti sudah banyak, apalagi sekarang jamannya keterbukaan informasi, tinggal kemauan dari kalian untuk membuka pemikiran atau mindset soal ini semua.
Ingat! Ini bukan soal kebencian, tapi ini adalah soal kepedulian kepada sejarah, serta pelurusan sejarah atas mereka ( Ba’alawi ) yang mencoba membelokan Sejarah dan merusak tatanan Sejarah yang semestinya, dan ini juga adalah soal Nasionalisme.!!
Wallohu aklamu bimurodih……..
#MERDEKA…!!! 🇲🇨
ℙ𝔼ℝ𝕋𝔸ℍ𝔸ℕ𝕂𝔸ℕ 𝔾𝕀𝕃𝔸𝕄𝕌 𝕁𝕀𝕂𝔸 𝕎𝔸ℝ𝔸𝕊𝕄𝕌 𝕊𝕌𝔻𝔸ℍ 𝕋𝕀𝔻𝔸𝕂 𝔻𝕀ℍ𝔸ℝ𝔾𝔸𝕀 𝕃𝔸𝔾𝕀 𝕂𝔸ℝ𝔼ℕ𝔸 ℍ𝕀𝔻𝕌ℙ 𝔹𝕌𝕋𝕌ℍ 𝕊𝔼𝔻𝕀𝕂𝕀𝕋 𝔾𝕀𝕃𝔸 O.O . Sumber : Panglima PWI LS Ustadz Agus Sobirin
Editor : Uta
