Buronan Ditakuti Belanda Tak Mempan Peluru Yang Gugur Ditangan Ibu Kandung

JEMBER – Di antara nama-nama besar pejuang Jember seperti Moch Sroedji dan dr. Soebandi, ada satu sosok yang namanya tak tercatat dalam sejarah resmi, tapi melegenda di mulut rakyat.

Namanya Bura. Pendekar sakti dari Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Jember ini lahir sekitar tahun 1900-an. Bukan tentara, bukan laskar berseragam, ia hanyalah petani biasa yang tumbuh dengan d4rah Madura pemberani. Tapi sepak terjangnya membuat Belanda kewalahan hingga memasang sayembara: tangkap Bura, hidup atau mati.

Ilmu kanuragan Bura bukan isapan jempol. Warga sepakat: ia kebal senj4ta t4jam dan senj4ta 4pi. Berkali-kali ia menghadapi gerombolan serdadu seorang diri, c3lurit di tangan, tanpa pernah terluka. Konon, kesaktian ini diperoleh dari gurunya, KH Abdul Hamid, ulama karismatik dari Desa Subo, Pakusari. Sang kiai memberinya amalan khusus yang membuat tubuh Bura seperti perisai. Bukan untuk sombong, ilmu itu ia gunakan untuk membela warga yang terus dis!ks4 penjajah.

Karena keberanian dan wibawanya, Bura dipercaya memimpin Laskar Rakyat di Jember utara, meliputi Kecamatan Mayang, Kalisat, dan Ledokombo. Ketika pasukan Brigade III/Divisi I Damarwulan pimpinan Moch Sroedji harus hijrah, Bura justru diperintahkan tetap tinggal di Jatian. Tugasnya: menjaga pedalaman desa dari infiltrasi Belanda. Dari sanalah ia melancarkan serangan sporadis, membuat kompeni tak bisa tidur nyenyak.

Tapi Belanda tak tinggal diam. Juli 1947, saat Agresi Militer II, mereka masuk ke Jember utara. Nama pertama yang dicari: Bura. Sadar tak bisa menaklukkan fisiknya, mereka menggunakan siasat paling licik: menyusupkan mata-mata pribumi ke dalam laskar rakyat. Bura dikhianati orang sendiri. Namun meski telah terpojok, ia tetap tak bisa dilumpuhkan. Sampai akhirnya Belanda menyadari: satu-satunya celah adalah ibu kandung Bura.

Ibunya disandera. Dipaksa menceritakan kelemahan sang putra yang kebal senjata. J4ntvng Bura h4ncvr. Sehebat apa pun ilmu seorang pendekar, cinta kepada ibu tak pernah bisa ia lawan. Bura menyerahkan diri dan membuka rahasia kelemahannya. Pada 26 Maret 1948, di usia 50 tahun, ia ditangkap pasukan Detasemen Mayang pimpinan Sergeant Majoor P. Sapteno. Bura diarak keliling Kecamatan Kalisat dengan tangan terborgol, d4d4 t3rbvk4, t4np4 b4jv. Perjalanan terakhir seorang macan yang dipamerkan seperti tontonan.

Akhirnya ia digiring ke pinggir Sungai Jatian, desa kelahirannya sendiri. Di situlah Bura di3ks3kvsi dengan cara paling bi4d4b: dib4k4r h!dvp-h!dvp hingga menjadi 4bu, lalu 4bunya dibuang ke sungai. Ia tak punya makam. Tak ada nisan untuk diziarahi. Tapi sebelum ajal menjemput, Bura sempat berwasiat: “Jangan sekali-kali keturunanku mengusulkan penghargaan pemerintah. Biarlah perjuanganku, Allah yang menilai. Soal rezeki, sudah ada yang mengatur.” Sebuah wasiat yang membuat namanya sengaja dilupakan, meski jasa-jasanya tak mungkin terhapus.

Kini, di tepi sungai tempat ia dib4k4r, berdiri Monumen Bura. Didirikan oleh sahabat seperjuangannya, almarhum Pak Basri. Bangunan itu berbentuk kubus dengan tulisan “Merdeka atau Mati” dan tugu kecil mirip Monas dengan lidah api emas. Di sanalah warga datang, bukan untuk menuntut pengakuan, tapi sekadar berbisik doa untuk pendekar yang memilih abadi dalam diam. Pemerintah Jember pun telah berkali-kali mementaskan drama kolosal perjuangannya. Tapi gelar pahlawan nasional tak kunjung datang—atas kehendaknya sendiri. Sebab Bura paham, surga tak butuh rekomendasi negara.(sumber FB: Rakon TV).

Copyright © 2024 Givalnews.com | All Right Reserved.